Praktik Keperawatan harus berdasarkan kepada bukti bukti yang kuat yang bersumber kepada referensi yang jelas atau penelitian yang reliabel dan valid. Oleh karena itu pendidikan keperawatan harus membekali para praktisi dengan kemampuan untuk “menguji” standar praktik yang ada, mengkritisi artikel artikel ilmiah yang dipublikasikan sampai melakukan penelitian klinik sendiri.

Bidang Keperawatan RSCM ingin mewujudkan praktik dan praktisi keperawatan sebagaimana digambarkan di atas. Oleh karena itu salah satu Key Performance Indicators (KPI) Bidang Keperawatan tahun 2017 adalah melakukan penelitian keperawatan minimal 1 per tahun. Walaupun sebenarnya kegiatan penelitian sudah dilakukan oleh praktisi keperawatan di RSCM setiap tahunnya, namun umumnya dilakukan sebagai tugas kuliah atau sebagai pendamping dokter serta belum memiliki visi yang sama dalam melakukan penelitian.

Berdasarkan hal itu maka Bidang keperawatan RSCM bersama staf FIKUI mengadakan program penyusunan Pohon Penelitian Keperawatan RSCM. Program tersebut diawali dengan kegiatan FGD yang dihadiri oleh perwakilan tenaga keperawatan dari berbagai area kekhususan keperawatan. Kegiatan FGD dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 19 Januari 2017 di Ruang kuliah Diklat Gedung Administrasi Lantai 6. Adapun tujuan dari kegiatan FGD ini adalah untuk mengumpulkan fenomena fenomena yang ada di pelayanan keperawatan.

Berikut adalah beberapa foto terkait kegiatan tersebut dari persiapan sampai pelaksanaan:

Iklan

Hari ini saya diberikan kesempatan untuk sharing tentang manajemen kegawatan di RS. Materi yang diminta oleh panitia adalah konsep dan aplikasi sistem deteksi perburukan kondisi pasien di RS. Saya bicara bersama dengan SAHABAT saya mas Yudi Elyas yang bicara tentang Code Blue System di RS.  Berikut beberapa cuplikan foto dari kegiatan tersebut… (sayangnya tidak mungkin selfi sambil bicara… eh tapi ada peserta yg share..thanks ya kak Ary ^_^)

C360_2015-03-21-11-01-24-599

Bagi yang ingin download materi saya silahkan klik link berikut:

NEWSS FIK UI FINAL:

Semoga berrmanfaat

tubing in ICUDalam perawatan pasien di RS, khususnya di ICU, pasien terpasang berbagai macam alat yang bagi orang awam akan sulit untuk membedakan fungsi dari setiap alat. Alat tersebut dapat berupa alat pemantauan hemodinamik pasien, CVC, selang infus (IV Line), Artery Line, ETT, NGT, OGT, dan masih banyak lainnya.

Banyak alat berupa selang (tubing) yang memungkinkan bagi perawat/ dokter untuk memasukan zat berupa gas atau cairan. Misalnya pada ETT (Endo Tracheal Tube) atau trachesotomy tube, perawat “menyuntikkan” udara (gas) untuk mengembangkan balon di dalam ETT dan TIDAK BOLEH menyuntikkan cairan. Sedangkan ke dalam CVC (Central Venous Catheter) perawat hanya diperbolehkan menyuntikkan cairan berupa obat atau cairan, tidak boleh menyuntikan gas karena dapat menyebabkan emboli dan dapat mengancam jiwa pasien.

Bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat atau dokter, salah menghubungkan/ memasukan tubing dengan zat yang tidak diperbolehkan, adalah hal yang TIDAK MUNGKIN TERJADI. Namun kenyataannya tidak demikian. Di Amerika, The New York Times melaporkan bahwa telah terjadi kematian ibu dan janin yang dikandungnya, setelah selang pemberian makan (feeding tube) secara tidak sengaja dihubungkan dengan selang infus (IV line) sehingga masuk ke dalam sirkulasi darah Ibu. Selain itu juga dalam 34 publikasi, ditemukan bahwa telah terjadi 116 kasus “salah sambung” lainnya, yang 21 diantaranya menyebabkan kematian.

Kejadian “salah sambung” di RS diyakini jarang dilaporkan, terutama ketika kejadian tidak menyebabkan dampak yang fatal bagi pasien, dan biasanya dikategorikan ke kategori lain seperti medication error. Risiko kejadian “Salah Sambung” sangat tinggi, mengingat hampir semua pasien yang dirawat di RS terpasang infus.

Banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan “salah sambung”, baik karena human error ataupun karena ketidaktahuan pasien dan keluarga. Namun berdasarkan analisis dari Joint Commission International (JCI) penyebab utama adalah karena konektor selang (tubing), baik untuk pemberian cairan intravena, cairan enteral maupun untuk pemberian gas, bersifat universal. Artinya setiap alat suntik dapat dihubungkan dengan berbagai jenis selang tersebut. Berdasarkan hal ini maka standar ISO (International Organization of Standarization) mengeluarkan standar baru konektor selang yang berbeda beda sesuai dengan jenis cairan atau gas yang akan dimasukkan (disuntikkan). Standar ini sudah mulai diujicobakan mulai 20 Agustus 2014 di Amerika, khususnya di negara bagian California. Namun kedepannya konektor khusus ini akan beredar dan digunakan di seluruh pelayanan kesehatan di dunia.

Menghadapi hal tersebut, JCI mengeluarkan beberapa rekomendasi terkait proses peralihan dari konektor lama ke konektor baru. Berikut rekomendasi dari JCI terkait persiapan peralihan dan pencegahan “salah sambung” selang perawatan/ pengobatan pasien:

iv missconnection JCI standar

detail akan dibahas pada posting berikutnya…(insya Allooh)

Referensi:

Klik untuk mengakses SEA_53_Connectors_081914.pdf

http://www.medscape.com/viewarticle/830240

http://www.medscape.com/viewarticle/832521_3

Foto diambil dari:

http://www.heraldsun.com.au/news/photos-e6frf7jo-1225795143669?page=8&nk=074ef2a5b169aa428c29e02ce98bc943

2013-06-16 14.19.33 2013-06-16 07.41.33 2013-06-16 08.37.25 2013-06-16 08.44.07 2013-06-16 08.45.27 2013-06-16 09.11.30 2013-06-16 10.01.08 2013-06-16 10.41.18 2013-06-16 12.26.48 2013-06-16 12.33.02 2013-06-16 12.33.13 2013-06-16 12.35.01 2013-06-16 12.38.33 2013-06-16 12.38.42 2013-06-16 12.38.59 2013-06-16 12.40.13 2013-06-16 12.46.28 2013-06-16 12.47.25 2013-06-16 12.49.00 2013-06-16 12.49.42 2013-06-16 12.51.13 2013-06-16 12.52.10 2013-06-16 13.00.35 2013-06-16 13.09.27 2013-06-16 13.09.51 2013-06-16 13.10.44 2013-06-16 13.12.24 2013-06-16 13.28.49 2013-06-16 13.32.43 2013-06-16 13.35.16 2013-06-16 13.35.37 2013-06-16 13.35.46 2013-06-16 13.45.57 2013-06-16 13.50.36 2013-06-16 14.04.31

Galeri  —  Posted: Juni 23, 2013 in My Life

coughSebuah program perawatan pascaoperasi  yang merupakan intervensi sederhana dan melibatkan tim multidisiplin telah terbukti dapat mengurangi angka kejadian pneumonia pasca operasi.

Michael R. Cassidy, MD, dari Departemen Bedah di Pusat Medis Universitas Boston, Massachusetts, dan rekan melaporkan temuan mereka secara online tanggal 5 Juni di JAMA Surgery.

Penelitian ini membandingkan pulmonary outcomes dari National Surgical Quality Improvement Program (NSQIP) sebelum dan sesudah pelaksanaan I COUGH. I COUGH adalah program multidisiplin yang terdiri dari:

  • Incentive Spirometry
  • Coughing and Deep Breathing (batuk dan nafas dalam)
  • Oral Hygiene (menyikat gigi dan menggunakan obat kumur dua kali sehari)
  • Understanding (edukasi pasien dan keluarga)
  • Getting out of bed frequently (mobilisasi keluar tempat tidur minimal 3 kali sehari)
  • Head of bed elevation (elevasi kepala empat tidur/ posisi semi fowler)

Para peneliti membandingkan hasil untuk semua pasien yang menjalani bedah vaskular atau umum di institusi mereka sebelum implementasi I COUGH (1 Januari sampai dengan 31 Desember 2009) dan setelah implementasi (1 Juli 2010, sampai dengan 30 Juni 2011).

Data sebelum implementasi menunjukkan 80,4% dari 250 pasien berada di tempat tidur selama kunjungan, dan 19,6% dari pasien berada dalam kursi atau berjalan. Pasca-Implementasi I COUGH menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan 69,1%  dari 250 pasien dari tempat tidur (P <.001). Sebelum implementasi elevasi kepala sudah dilakukan dan begitu juga setelah implementasi (82,7% dan 91,5%, masing-masing; P = .40)

Audit keperawatan juga menunjukkan bahwa lebih dari setengah (52,8%) pasien memiliki incentive spirometry sebelum implementasi I COUGH. Setelah I COUGH, 77,2% pasien memiliki incentive spirometry dan digunakan dengan frekuensi yang tepat (P <.001).

Kejadian pneumonia pasca operasi adalah 2,6% (1569 kasus) selama tahun sebelum pelaksanaan I COUGH; idata ini sama dengan periode sebelumnya. Selama periode setelah implementasi I COUGH, kejadian pneumonia menurun menjadi 1,6% (1542 kasus, P = .09). Tingkat kejadian pneumonia di rumah sakit yang sama untuk periode yang sama berkisar dari 1,4% sampaii 1,7%.

“Meskipun tidak mencapai signifikansi klinis, penelitian ini memiliki banyak hasil positif. Cassidy dan rekan-rekannya telah menunjukkan bahwa menciptakan sebuah tim multidisiplin yang menerapkan langkah-langkah sederhana yang melibatkan perawatan paru dari pasien bedah dapat meningkatkan hasil dan biaya medis yang lebih rendah,” tulis Bruce J. Leavitt, MD, dari Departemen Bedah di Fletcher Allen Health Care di Burlington, Vermont.

Artikel lebih lengkap dapat dilihat di sini

nursemedsosJejaring sosial sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kebanyakan dari kita pasti memiliki akun di jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, g+ dan lainnya. Dalam jejaring sosial tersebut kita bisa mengekspresikan perasaan kita, kondisi diri kita atau kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita, termasuk dalam pekerjaan kita. Kaitannya dengan pekerjaan kita sebagai seorang perawat, pantaskah kita melakukan “posting” di Facebook atau “ngetwit” di Twitter tentang pekerjaan kita yang tentunya terkait orang lain yaitu pasien dan rekan kerja kita para profesional dalam pelayanan kesehatan. Bolehkah kita me-posting  di Facebook perasaan seperti “Kesel, kesel, kesel….ini pasien komplain melulu”?, beberapa dari anda mungkin tidak mempermasalahkan karena kita me-posting tanpa menyebutkan identitas pasien, tapi apakah hal ini tidak melanggar etika profesi?

Menanggapi fenomena jejaring sosial ini, sebuah organisasi keperawatan di Amerika  yaitu National Council of State Boards of Nursing (NCSBN) mulai mengembangkan pedoman media sosial bagi perawat (saya harap PPNI juga bisa mengadopt ^_^). Sehingga diharapkan media sosial dapat digunakan untuk potensi sepenuhnya dalam berkomunikasi dengan pasien. Pedoman NCSBN ini (NCSBN, 2011e) dapat ditemukan online disini dan diringkas sebagai berikut:

  1. Perawat harus menyadari bahwa mereka memiliki kewajiban etika dan hukum untuk menjaga privasi pasien dan kerahasiaan setiap saat.
  2. Perawat tidak boleh mengirimkan, dengan cara apapun di media elektronik, menegnai informasi pasien yang terkait atau gambar yang dapat melanggar hak pasien untuk kerahasiaan atau privasi atau dapat menurunkan harga diri atau mempermalukan pasien.
  3. Perawat tidak boleh berbagi, posting, atau menyebarkan informasi apapun, termasuk gambar, tentang seorang pasien atau informasi yang diperoleh dalam hubungan perawat-pasien dengan siapa pun kecuali ada kebutuhan perawatan pasien terkait, untuk mengungkapkan informasi atau adanya kewajiban hukum untuk melakukannya.
  4. Perawat tidak boleh memposting atau mempublikasikan informasi yang dapat menyebabkan identifikasi pasien diketahui publik. Membatasi akses ke posting melalui pengaturan privasi tidak cukup untuk memastikan privasi.
  5. Perawat tidak boleh mempublikasi sesuatu yang meremehkan pasien, walaupun tidak menyebutkan nama pasien (identitas pasien)
  6. Perawat tidak boleh mengambil foto atau video pasien pada perangkat pribadi, termasuk perangkat mobile.
  7. Perawat harus menjaga batas-batas profesional dalam penggunaan media elektronik.
  8. Perawat harus merujuk pada kebijakan rumah sakit atau berkonsultasi dengan atasan yang sesuai dalam organisasi untuk bimbingan mengenai posting yang berhubungan dengan pekerjaan.
  9. Perawat harus segera melaporkan setiap pelanggaran terkait kerahasiaan atau privasi pasien.
  10. Perawat harus menyadari dan mematuhi kebijakan rumah sakit mengenai penggunaan komputer milik rumah sakit, kamera, dan perangkat elektronik lainnya dan penggunaan perangkat pribadi di tempat kerja.
  11. Perawat tidak boleh membuat  komentar yang meremehkan atasan atau rekan kerja

zero ciaZero Complaint
Zero Incident
Zero Accident

Kutipan  —  Posted: April 1, 2013 in ruang motivasi

Image

Organisasi perawat Indonesia atau yang kita kenal dengan PPNI terus berbenah diri. Salah satu yang sudah dibenahi adalah mekanisme registrasi anggota.

Beberapa dari kita mungkin bertanya “Apa sih untungnya terdaftar menjadi anggota PPNI?”. Menjawab pertanyaan tersebut PPNI menjelaskan dalam website resminya (http://www.inna-ppni.or.id/innappni/innappni) sebagai berikut:
1. Segala bentuk rekomendasi hanya akan diberikan PPNI kepada perawat yang terdaftar secara benar sebagai anggota PPNI (Termasuk surat rekomendasi sebagai syarat TKHI/PPIH-pen)

2. SKP yang diperoleh anggota PPNI dari setiap kegiatan pelatihan, seminar ataupun yang lainnya, akan teradministrasi secara otomatis di database SIMK PPNI dan akan berguna untuk melakukan perpanjangan STR.

3. Bila tidak terdaftar sebagai anggota PPNI, maka secara sistem, SKP yang diperoleh perawat tersebut tidak akan terdata didatabase SIMK PPNI. dan secara administrasi, SKP tersebut tidak akan berguna.

4. PPNI HANYA AKAN MEMBERIKAN REKOMENDASI PERPANJANGAN STR BAGI ANGGOTANYA SAJA. jadi pastikan bahwa anda terdaftar secara benar sebagai anggota PPNI.(STR adalah salah satu syarat administrasi kita boleh praktik/ bekerja di RS-pen)

Tetapi sebenarnya, tanpa melihat manfaat dari menjadi anggota PPNI, seyogyanya kita yang mengaku sebagai PERAWAT yang pernah diangkat sumpah profesi HARUS terdaftar menjadi anggota PPNI. Jadi tunggu apalagi “Ayo terdaftar secara benar di PPNI”.

Link registrasi PPNI

http://simk.inna-ppni.or.id/login/

http://www.inna-ppni.or.id/innappni/mntop-alur-registrasi-anggota-ppni.html

http://www.inna-ppni.or.id/innappni/berita-203-jawaban-atas-pertanyaan-seputar-keanggotaan-ppni.html

 

2012 in review

Posted: Januari 1, 2013 in Uncategorized

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The new Boeing 787 Dreamliner can carry about 250 passengers. This blog was viewed about 1,700 times in 2012. If it were a Dreamliner, it would take about 7 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Salah satu indikator kinerja seseorang dikatakan BAIK  adalah memiliki  “Budaya Kerja” yang mencerminkan perilaku “Pekerja” dalam melakukan pekerjaannya. Kalau dikaitkan dengan profesi kita, Budaya Kerja adalah bagaimana perilaku kita terhadap pelanggan kita yaitu pasien.
Pada tulisan ini saya tidak akan menjelaskan mengenai apa itu Budaya Kerja, bagaimana cara melaksanakannya tetapi saya akan coba “berbagi” contoh budaya kerja di sebuah RS di Amerika yaitu Boston Medical Center beserta aplikasinya, semoga bermanfaat:
budaya-kerja

Budaya kerja yang pertama adalah Patient First, berikut adalah tulisan dari salah satu staf perawat di BMC mengenai Budaya kerja yang pertama ini:

Patient First!
Easter Sunday was a very busy day for the Cardiac Catheterization Lab and Cardiac Care Unit (CCU). We had three back-to-back cases, all very sick patients needing critical care services. There were no available beds and we had our second patient arriving from the Emergency Department before we even had the fi rst off the table. I want you to know how proud I am to work with such dedicated professional nurses. Everyone was extremely helpful. I want to compliment all the nurses working in CCU that day. They were all instrumental in making a very stressful situation tolerable. They all deserve a pat on the back. I also want to recognize the housekeeping supervisor who did an outstanding job of turning over the rooms quickly. He was professional and courteous and sensed the urgency of the situation. This truly was a team effort and exemplifi ed our commitment to our patients: Exceptional Care without Exception! The day didn’t end there. Three hours later we were back to the  Catheterization Lab with another emergency, this time with a cardiac arrest. I called one of the nurses from home to let her know we were coming back and needed another CCU bed. Again, everyone made it happen. The best part is that all of the patients are going home. It turned out to be a very Happy Easter. I just wanted you to know how rewarding it was to be a nurse at Boston Medical Center and to work with such a great  staff. – STEVE HURRELL RN, BS, CCRN, CARDIAC CATHETERIZATION LAB

Begitulah gambaran apabila sebuah organisasi mampu membuat Budaya Organisasi menjadi Budaya Setiap Anggota Organisasi tersebut.

Jadi, bagaimana dengan budaya kerja kita? Silahkan anda analisa bagaimana Budaya Kerja di Tempat Kerja Anda  dan bagaimana Budaya Kerja Diri Anda Sendiri.

Referensi:

Klik untuk mengakses bmc-NursingAnnualRpt-07.pdf